Akulah yang Memilihmu ? (Part 6)

Penulis_artikel: 
Yonghan Lim
Tanggal_artikel: 
31 Maret 2016
Isi_artikel: 

Bulan Juni 2013, perjalanan iman membawa saya sampai ke Medan. Ada satu pendeta yang perlu saya cari tahu mengenai pergumulan imannya setelah badai kehidupan baru melandanya; apakah dia membenci atau tetap mengasihi Kristus?

Sejak muda, ia sudah rajin melayani Kristus; membawa jiwa-jiwa mengenal-Nya. Hidupnya saleh dan sungguh-sungguh mengikuti pimpinan Tuhan. Memuridkan orang di dalam Kristus menjadi lifestyle-nya.

Badai kehidupan terbesarnya datang ketika putra pertamanya lahir. Di hari ketiga, ditemukan ada kelainan pada usus anaknya sehingga harus dioperasi. Setelah dioperasi, anaknya tidak kunjung membaik dan akhirnya harus berpulang ke Ilahi. Anak-anaknya bandar narkoba banyak yang sehat-sehat saja, tidak harus melewati tragedi seperti ini. Kenapa pendeta harus mengalami yang gini-gini?

Setelah setia melayani Tuhan sejak muda, inikah upah melayani-Nya? Tuhan macam apa ini yang tidak mampu menjaga pengikut-Nya dari tragedi? "Kalau saya jadi Abang, sudah saya bubarkan gereja," tegasku. "Abang sebaliknya, Dek. Hari ketika Joshua berpulang, abang dengan hati yang remuk redam hanya bisa berteriak, Bapa, saya tetap mencintaiMu. Saya tetap mau melayaniMu," ceritanya. Di hari pemakaman anaknya, mentor rohani pendeta ini berpesan, "Hari ini, kalian berdua tahu perasaan Bapa di surga seperti apa ketika harus melihat anakNya disalib, mati, dan dikuburkan demi menebus umat manusia. Pengalaman ini baik bagi kalian, supaya bisa lebih mengasihi jiwa-jiwa."

What?! Hello... iman macam apa ini? Karena sedang di Medan, pendeta ini menawarkan opsi sekalian jalan-jalan ke Danau Toba besok paginya. Maka, berangkatlah kami pagi-pagi esoknya. Dalam perjalanan empat jam kami, saya cecar terus apa yang menjadi dasar imannya. Saya uji terus kesabarannya dengan pertanyaan sulit dan sukar. Pendeta ini tampak kewalahan meladeni pertanyaan-pertanyaan ini. Sesampai di Danau Toba, pertanyaan-pertanyaan masih tidak habis habis, bahkan diskusi kami berlanjut sampai dengan pukul 23. Tidak ada ampun; cecar terus, tanya terus. Akhirnya, karena kami berdua sudah kelelahan, kami sudahi sesi pemuridan itu dan langsung pergi tidur. Tak disangka-sangka, malam itu ternyata akan menjadi malam yang revolusioner. Allah akan merubah segalanya, tanpa pernah saya sangka- sangka dan antisipasi.

Bersambung... Soli Deo Gloria