Pendidikan yang Berpusat kepada Allah

Editorial: 

Dear e-Reformed Warganet,

Abad pertengahan dalam sejarah gereja, berlangsung dari abad ke-5 sampai abad ke-15 M. Masa ini dimulai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan berlangsung hingga sebelum Reformasi Luther pada tahun 1517. Pendidikan pada masa itu adalah pendidikan yang didasarkan pada perenungan dalam hidup biara, dan para teolognya cenderung melakukan askese. Perenungan hidup di biara dan beraskese dinilai dapat mencapai pengenalan akan Allah dan mendapatkan kebahagiaan. Mengapa pendidikan pada masa abad pertengahan justru menjadi tolok ukur "Pendidikan yang berpusat kepada Allah"?

Nicholas P. Wolterstorff dalam bukunya yang berjudul Mendidik untuk Kehidupan menjelaskan bahwa pendidikan yang berpusat pada Allah akan menghasilkan Shalom. Apa maksudnya? Dapatkan jawabannya dengan membaca artikel di bawah ini. Harapan kami, para pembaca akan mendapatkan wawasan yang semakin luas tentang pentingnya pendidikan yang berpusat pada Allah yang menghasilkan Shalom dalam hidup kita. Selamat merenungkan.

Amidya

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Amidya

Edisi: 
Edisi 200/Mei 2018
Isi: 

Kita harus memahami ungkapan "pendidikan yang berpusat kepada Allah" dengan benar, karena kalau tidak, kita akan menyimpang. Menurut visi Abad Pertengahan tentang cara hidup orang Kristen di dunia, kehidupan bermeditasi lebih baik daripada kehidupan yang aktif. Segenap umat manusia mencari kebahagiaan; dalam hal ini, demikian pendapat orang-orang Abad Pertengahan, tidak ada perbedaan dalam masing-masing pribadi. Yang berbeda adalah isu di mana letaknya kebahagiaan kita. Kebanyakan pemikir Abad Pertengahan meyakini bahwa kita diciptakan sedemikian rupa hingga kebahagiaan kita terletak dalam kehidupan akal budi, terfokus pada hal yang paling berharga -- Allah. Tujuan sejati manusia terletak dalam memalingkan diri dari dunia ini untuk masuk ke dalam meditasi yang didasari oleh pengenalan dan kasih akan Allah. Di sini, dan hanya di sinilah, terletak kebahagiaan tertinggi. Adapun pendidikan yang dirancang untuk memupuk cara hidup seperti itu di dunia -- yang dirancang untuk mendorong orang berpaling dari dunia untuk merenungkan Allah -- saya rasa patut dinamakan, "pendidikan yang berpusat pada Allah". Namun, bukan ini yang saya maksudkan dengan ungkapan ini, sebab pengertian saya mengenai cara hidup orang Kristen yang sejati di dunia, sejujurnya, adalah pengertian Reformasi -- sekalipun saya sama sekali tidak ingin menyiratkan bahwa hal ini tidak didapati di luar gereja-gereja Reformasi karena memang ada.

Tidak diragukan bahwa alternatifnya dapat didekati dari berbagai arah yang berbeda. Dahulu, saya mendekatinya dengan menyelidiki natur iman. Akan tetapi, di sini, pada kesempatan ini, saya ingin mencapainya dari sudut yang berbeda.

Alfa dan Omega

"Aku adalah Alfa dan Omega," firman Allah dalam kitab Wahyu. Dia "yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang". Gambaran Allah dalam persepsi teolog-teolog Abad Pertengahan ialah bahwa Allah berada di luar waktu, berdiam dalam kekekalan, senantiasa hadir, tanpa masa lampau dan tanpa masa depan, tidak beremosi, tidak berubah. Gambaran penulis-penulis Alkitab sangat berbeda: Allah ialah masa lampau dan masa mendatang seperti juga masa kini, sebab perbuatan-perbuatan-Nya adalah masa lampau dan masa mendatang seperti juga masa kini. Perbuatan-Nya tercatat dalam sejarah kita, dan membentuk dasar sejarah kita. Inti dari natur cara hidup orang Kristen di dunia adalah fakta bahwa Allah yang diakuinya terlibat dalam sejarah yang merupakan milik Allah dan milik kita, tetapi dalam sejarah ini, Allah adalah Tuhan, dan kita bukan.

Ingatlah pidato perpisahan Musa kepada umat Israel yang kita baca di kitab Ulangan. Seperti gong raksasa yang dipukul berulang kali, tiga tema terjalin di seluruh pidato itu: ingatlah, berharaplah, dan berhati-hatilah. Israel harus senantiasa ingat bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi telah membebaskan mereka dari perbudakan kerja paksa di tempat pembuatan batu bata di Mesir. Mereka harus senantiasa hidup dalam pengharapan yang teguh bahwa Allah akan setia akan janji-Nya untuk memberkati umat-Nya, dan memberi mereka tanah tempat tinggal. Dan, dalam lingkup di antara tidak pernah lupa dan tidak henti-hentinya berharap, Israel harus memperhatikan perintah-perintah Allah, perintah yang tidak membebankan suatu kewajiban asing, tetapi untuk kebaikan umat sendiri (Ulangan 10:13) agar mereka hidup (Ulangan 4:1). Dalam masyarakat, mereka tidak boleh memutarbalikkan keadilan; keadilan dan semata-mata keadilanlah yang harus mereka kejar (Ulangan 16:19-20). Dan, mereka akan bersujud di hadapan Tuhan Allah, bersukaria karena segala yang baik yang diberikan-Nya kepada mereka (Ulangan 26:10-11).

Yang unik dalam kehidupan umat Israel ialah bahwa pekerjaan dan ibadah mereka menjadi cara mereka memelihara iman kepada Allah, yang perbuatan-Nya dalam membebaskan dan memberkati mereka harus diingat dan diharapkan sampai selamanya. Menurut saya, cara hidup orang Kristen di dunia, meskipun berbeda dalam substansi, harus sama dalam strukturnya. Inti perbedaannya, tentu saja, adalah bahwa Mesias yang diramalkan dan diharapkan oleh Israel telah ditemukan oleh orang Kristen dalam diri Yesus dari Nazaret. Teologi Kristen sepenuh adalah teologi yang berharap dan mengingat, di samping teologi yang memelihara iman kepada Allah yang diingat dan diharapkan oleh manusia.

Saya yakin Anda telah mulai melihat beberapa implikasi bagi visi pendidikan. Sasaran tertinggi pendidikan, dalam pandangan orang Kristen, bukanlah pendewasaan murid, meskipun pendewasaan memang akan terjadi; bukan sosialisasi murid, meskipun sosialisasi juga akan terjadi; bukan pula perenungan tentang Allah, kendati itu pun akan terjadi. Sasarannya adalah membimbing anak ke dalam kehidupan yang memelihara iman kepada Allah yang kita ingat dan harapkan.

Marilah saya paparkan lebih lanjut tentang hal memelihara iman. Gambaran cara hidup Kristen di dunia yang baru saja saya kemukakan kepada Anda jelas merupakan gambaran yang sakramental. Dunia kita adalah sakramen Allah. Dalam alam dan sejarah, kita berjumpa dengan Allah. Realitas dipenuhi dengan sakralitas (perlambangan). Baik dalam keseluruhannya sebagai kosmos maupun sebagai sejarah, realitas merupakan "epifani" Allah, sarana penyataan, hadirat, dan kuasa-Nya. (Realitas) benar-benar 'berbicara' tentang Dia dan dalam dirinya sendiri, merupakan sarana yang penting bagi pengenalan akan Allah dan persekutuan dengan-Nya, dan itulah natur sejati dan destiny tertinggi dari realitas".

Yesus Mengajar

Dan, apakah respons kita yang sepatutnya setelah kita menyadari bahwa dalam perjalanan kita di dunia, kita harus berurusan dengan Allah? Saya menyukai apa yang dikatakan John Calvin tentang hal ini. Rasa syukur, katanya, adalah respons kita yang sepatutnya: rasa syukur dalam ketaatan, penyembahan, dan apresiasi. Marilah saya tekankan setiap kualitas ini: Rasa syukur akan mewujudkan dirinya dalam ketaatan terhadap kehendak Allah, terhadap hukum-hukum Allah. Rasa syukur juga akan mewujudkan diri dalam penyembahan kepada Allah. Memang, penyembahan sendiri juga merupakan tindakan ketaatan, tetapi alasan paling kuat bagi orang Kristen untuk menyembah Allah bukanlah karena mereka diperintahkan menyembah, melainkan karena terdorong oleh rasa syukur; mereka dengan spontan menyembah. Dan, yang ketiga, rasa syukur mewujudkan dirinya dalam apresiasi ketika kita memakai benda-benda di sekeliling kita dalam kesukaan yang membahagiakan dan kebahagiaan yang menyukakan. Kata Calvin, "Bila kita merenungkan apa tujuan Allah menciptakan makanan kita, akan mendapati bahwa Ia bukan hanya menyediakannya demi memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk kenikmatan dan kesenangan kita .... Dalam rumput-rumputan, pepohonan, dan buah-buahan, di samping berbagai kegunaannya, ada keindahan dalam penampilannya serta aroma yang menyenangkan."

Jikalau orang-orang Kristen yang berpegang pada tradisi Reformasi berupaya mencapai inti dari memelihara iman kepada Allah, kerap ketaatanlah yang mereka tekankan. Allah dipandang terutama sebagai pemberi hukum dan kita terpanggil untuk taat. Kita mempunyai tugas di dunia. Pada dasarnya, menjadi manusia berarti memiliki tanggung jawab. Dahulu, saya sendiri terkadang berbicara seperti itu. Akan tetapi, hari ini, saya ingin menampilkan gambaran yang lain. Ketaatan tentu saja ada. Saya sama sekali tidak menyangkali, atau mengabaikan, pentingnya hukum, norma-norma, tugas, dan tanggung jawab. Namun, menurut saya, ada sesuatu yang lebih bermakna dalam cara hidup Kristen di dunia selain daripada ketaatan kepada Allah, yang terutama dipandang sebagai pemberi hukum. Sesuatu yang lebih bermakna itu adalah rasa syukur kepada Allah yang mengasihi anak-anak-Nya. Mungkin sebaiknya saya tambahkan, rasa syukur yang ditimbulkan oleh hajaran, sebab orang Kristen juga menyadari murka Allah kepada barangsiapa yang menghinakan pemberian-Nya dan Sang Pemberi sendiri. Jadi, ketaatan adalah perwujudan dari rasa syukur, tetapi hanya salah satunya, sebab ada pula penyembahan, serta apresiasi terhadap dunia sekitar kita dalam kesukaan dan kebahagiaan. Sekali lagi, saya percaya bahwa Anda telah melihat sekilas dari pandangan-pandangan yang terbentang bagi pendidikan. Beberapa tahun yang silam, saya menulis sebuah buku berjudul Educating for Responsible Action. Saya menegaskan bahwa teori pendidikan Kristen adalah salah satu versi dari teori tanggung jawab. Saya masih tetap memegang pendapat ini. Akan tetapi, ini belum mencakup gambaran selengkapnya. Cara hidup Kristen di dunia ialah kehidupan dengan rasa syukur yang disertai tanggung jawab, penyembahan, dan apresiasi. Itulah tujuan pendidikan.

Mendidik untuk Shalom

Shalom

Dan, kini, saya ingin meninjau topik kita dari sebuah sudut lain lagi, kali ini bukan dari sudut memelihara iman, melainkan dari sudut perbuatan Allah kepada Siapa kita beriman. Allah yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Allah yang perbuatan-Nya kita ingat dan harapkan dan kenali -- seperti apakah pola perbuatan-perbuatan-Nya? Apakah sasaran yang dituju-Nya? Satu jawaban yang menonjol dalam Perjanjian Baru adalah bahwa Allah bekerja untuk meneguhkan pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya. Saya ingin bertanya pada kesempatan ini, apakah isi dari pemerintahan Allah?

Menurut saya, para penulis Alkitab menjawab bahwa isi pemerintahan Allah ialah damai sejahtera -- atau biarlah kita memakai kata Ibrani yang lebih tepat, yakni shalom. Komunitas tempat Kristus adalah Tuhan adalah komunitas shalom. Ya, tetapi apakah Shalom itu? Shalom ada bilamana seseorang hidup dalam damai sejahtera dalam semua hubungannya: dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam. Apabila ada Shalom, maka:


Serigala akan tinggal bersama domba
dan macan tutul akan berbaring di samping kambing.
Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama,
dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput
dan anaknya akan sama-sama berbaring,
sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung
dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya
ke sarang ular beludak.
(Yesaya 11:6-8)

Namun, untuk hidup dalam damai sejahtera dalam semua hubungan bukan hanya berarti tidak ada permusuhan, itu belum cukup. Membiarkan orang hidup belum berarti shalom. Shalom ialah kesukaan dalam setiap hubungan. Sebuah bangsa bisa saja hidup dalam damai dengan semua bangsa di sekitarnya, tetapi tetap hidup sengsara dalam kemiskinan. Hidup dalam shalom artinya menikmati hidup di hadapan Allah, menikmati hidup dalam lingkungan fisiknya, menikmati hidup dengan sesama manusianya, menikmati hidup dengan dirinya sendiri.

Pertama, shalom mencakup hubungan yang benar dan selaras dengan Allah, dan sukacita dalam penyembahan dan pelayanan kepada Allah. Ketika para nabi berbicara tentang shalom, mereka berbicara tentang suatu hari ketika umat manusia tidak lagi akan melarikan diri dari Allah sepanjang masa, suatu hari ketika mereka tidak lagi akan berbalik untuk melawan pengejar ilahi mereka. Shalom disempurnakan apabila umat manusia mengakui bahwa dalam pelayanannya kepada Allah-lah didapati kesukaan sejati. "Gunung rumah TUHAN", demikian kata nabi:


akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung
dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit;
bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana.
(Mikha 4:1)

Yang kedua, shalom mencakup hubungan yang benar dan selaras dengan sesama manusia lainnya dan kesukaan dalam komunitas manusia. Shalom tidak ada bilamana masyarakat merupakan sekumpulan individu yang masing-masing hendak memperjuangkan jalannya sendiri di dunia. Dan, tentu saja, kesukaan dalam masyarakat bisa ada hanya bila keadilan berkuasa, hanya bila manusia tidak lagi saling menindas. Hanya bila "di padang gurun selalu akan berlaku keadilan dan di kebun buah-buahan akan tetap ada kebenaran" -- maka "di mana ada kebenaran akan tumbuh damai sejahtera (shalom), dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya" (Yesaya 32:16-17). Dalam shalom:

Kasih dan kesetiaan akan bertemu,
keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.
Kesetiaan akan tumbuh dari bumi,
dan keadilan akan menjenguk dari langit.
(Mazmur 85:11-12)

Ketiga, shalom mencakup hubungan yang benar dan selaras dengan alam dan kesukaan dalam alam jasmani di sekeliling kita. Shalom datang bila kita, makhluk-makhluk badani, dan bukan jiwa-jiwa tanpa raga, membentuk dunia dengan pekerjaan kita dan menemukan pemuasan di dalamnya dan sukacita dalam hasilnya. Ketika berbicara tentang shalom, nabi berbicara tentang suatu hari ketika Tuhan akan menyediakan bagi segala bangsa:

suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk,
suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar,
anggur yang tua yang disaring endapannya.
(Yesaya 25:6)

Audio Pendidikan yang Berpusat kepada Allah

Diambil dari:
Judul buku : Mendidik untuk Kehidupan
Judul asli artikel : Pendidikan yang Berpusat kepada Allah
Penulis : Nicholas P. Wolterstorff
Penerbit : Momentum, Surabaya 2014
Halaman : 119 -- 125