You are What You Love -- The Power of Spiritual Habit

Oleh: Rode P.

Judul progsif kali ini sangat menarik bagi kaum muda karena berkenaan dengan cinta. Hal itu terbukti dari kebanyakan peserta yang hadir dalam progsif adalah anak muda. Vikaris Heru Lin, hamba Tuhan, sebagai pembicara, memulai seminar dengan menunjukkan tiga gambar ilusi kepada peserta, yang membuat kami berpikir melihat hal yang berbeda dari gambar yang terlihat. Sama halnya dengan permasalahan Kristen, yaitu ketika kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa masalah kekristenan hanyalah hubungan antara manusia dengan Tuhan sehingga tidak memperhatikan hubungannya dengan keluarga, teman, masyarakat dan lingkungan sekitar. Dari sana, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah tujuan Yesus datang ke dunia? Secara otomatis, jawaban yang keluar dari peserta adalah untuk menebus dosa manusia. Namun, bukan hanya ini yang menjadi tujuan Kristus sesungguhnya, melainkan bahwa Kristus ingin merestorasi seluruh ciptaan Tuhan dan kita dipanggil untuk menjadi rekan Allah dalam menggenapi rencana ini. Melalui kita, Kristus dihadirkan dalam segala bidang kehidupan.

Dari hal ini kita perlu mengetahui tiga unsur manusia: natur manusia, tugas manusia, dan tugas gereja.

Natur manusia menunjukkan bahwa kita merupakan gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Dalam tradisi Calvinis, disebutkan manusia mempunyai kebenaran sejati, manusia mempunyai pengetahuan sejati, dan manusia mempunyai kekudusan sejati. Dalam kitab Kejadian, tugas manusia lebih mengarah kepada tindakan. Ada dua hal yang Tuhan minta: dominan (menguasai) dan reproduksi. Manusia dominan mengarah kepada tugas kita untuk mengelola semua yang Tuhan telah sediakan, misalnya Tuhan tidak pernah membuat kursi dari kayu tetapi Tuhan menyediakan bahan pembuatan. Sementara, dalam tugas reproduksi kita dituntut memenuhi bumi dengan keturunan kita. Tuhan juga menaruh manusia di bumi karena Tuhan menginginkan kita menjadi representasi Allah yang berkuasa atas seluruh bumi bagi Tuhan. Tuhan menciptakan dunia untuk dikelola lebih lanjut untuk kemuliaan Tuhan. Hal menunjukkan manusia merupakan makhluk emosional dan subjektif. Sebagai contoh, seorang filsuf bernama John Dewey yang menjadi pencetus Pop Art dengan immediate experience, menciptakan musik yang dapat diterima oleh kaum awam tanpa perlu menyelidiki keteraturan partitur musik, makna dari kata-kata di dalam lagu seperti halnya musik klasik.

Pop Culture masuk ke dalam budaya kita tanpa melalui rasio dengan langsung menuju pada perasaan dengan prinsip If it feel right, it will be right . Hal ini juga yang terjadi dalam pertumbuhan gereja, yang lebih mementingkan pengalaman di dalam penyembahan, manusia yang selalu ingin disentuh perasaannya. Perlu diingat, manusia juga tergolong ke dalam manusia rasional dan manusia emosional. Kita dapat melihat contohnya dalam Alkitab, manusia rasional adalah Ahli Farisi/Ahli Taurat, sedangkan manusia emosional adalah orang-orang banyak yang mengelu-elukan Tuhan Yesus. Akhir dari keduanya menginginkan Yesus untuk disalib. Mengapa bisa seperti itu? Kita melewatkan satu hal penting, bukan hanya manusia rasional, manusia emosional, tetapi juga manusia yang mencintai. You are what you love, adalah satu slogan yang berarti bahwa kita melakukan sesuatu karena kita mencintainya. Mengapa ada banyak hal yang seharusnya kita lakukan tetapi tidak dapat kita lakukan? Masalahnya bukan pada pengetahuannya melainkan terdapat pada apa yang dicintainya. Masalah terbesarnya adalah kita TIDAK CINTA TUHAN, jika kita mencintai TUHAN kita selalu teringat tentang-Nya, berusaha mengenal kesukaan-Nya, kenal kisah hidup-Nya. Oleh sebab itu, ketika Yesus bertemu Petrus, Dia bertanya, "Do you love Me?" selama tiga kali, dan pertanyaan ini yang menyadarkan Petrus. Setelah itu, dia pun mengasihi Tuhan lebih dari segalanya, dirinya, dan rela disalibkan terbalik dalam akhir hidupnya.

Dalam Amsal 4:23, "Peliharalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari sanalah pancaran kehidupan" (AYT). Banyak hal yang kita pelihara adalah hal yang lain-lain/yang tidak penting, sedangkan hati kita menjadi kunci dari kehidupan kita. Manusia diciptakan dengan satu sifat dinamis, seumpama kapal yang harus berlayar mencapai pelabuhan yang Tuhan inginkan, arah hati kita akan menjadi kompas menuju dermaga yang Tuhan mau. Akan tetapi, jika kompasnya tidak terarah kepada Tuhan kita tidak akan mencapai dermaga dan kapal kita akan terus terombang-ambing. Lukas 12:30 menggambarkan harta seperti magnet yang membawa hati kita berada. Dari sini, kita perlu memeriksa, apa sebenarnya hasrat terdalam kita, apakah kita sungguh mencintai Tuhan atau ada tujuan yang lain. Cara agar kita belajar mencintai Tuhan adalah dengan melakukan kebiasaan imitasi dan praktek. Imitasi, adalah dengan cara kita melihat sosok teladan yang ingin kita tiru. Sementara dengan praktek, kita lakukan hal tersebut secara berulang-ulang dan terus-menerus. Kita sering memandang pengorbanan untuk Tuhan adalah hal yang tragis. Kita lebih memilih untuk dibentuk oleh nilai-nilai dunia, yang tanpa kita sadari membawa kita kepada tradisi dunia dan meninggalkan perintah yang Tuhan sampaikan. Gereja harus meninggalkan tradisi dunia dan membawa kebiasaan liturgi yang seharusnya gereja lakukan, seperti: katekisasi, pengakuan dosa, dll. Dan, sebagai anak Tuhan, kita dituntut melakukan kebiasaan yang benar setiap saat, yang menunjukkan kecintaan yang murni di hadapan Tuhan. Untuk itu, mintalah hati yang rindu untuk melakukannya dari Tuhan. Jika Anda ingin melakukan apa yang Tuhan ajarkan maka mulai pikirkan kebiasaan yang butuh diubah dan referensi apa saja yang dapat dicari untuk mejalankan kerinduan kita. Kiranya Tuhan memampukan kita melakukan bagian kita. God bless.