Renaisans dan Reformasi dan Pemeliharaan Allah

Penulis_artikel: 
Subby Szterszky
Tanggal_artikel: 
5 Maret 2021
Isi_artikel: 

Peristiwa-peristiwa sejarah yang besar biasanya jadi agak menyimpang dalam pikiran orang banyak, dikurangi sedikit menjadi coretan sederhana yang cocok dengan keyakinan-keyakinan saat ini. Misalnya saja, Renaisans dan Reformasi, kedua gerakan besar yang membangkitkan dunia modern itu, seperti yang kita ketahui.

Budaya sekuler yang lebih luas memandang Renaisans sebagai kemenangan akal atas iman, kemenangan kaum humanis melepaskan belenggu takhyul untuk menerima seni dan ilmu pengetahuan dan pikiran yang bebas. Budaya yang sama itu memandang Reformasi sebagai sebuah persoalan religius yang suram, yang mengakibatkan peperangan dan tribalisme (kesadaran dan kesetiaan atas kesukuan - Red.) dan intoleransi terhadap orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda.

Berbagai tradisi gereja telah mengemukakan jenis pengurangan mereka masing-masing. Bagi beberapa gereja, Renaisans merupakan sebuah kemenangan dunia atas gereja yang menyedihkan, membuka kesempatan bagi kaum sekuler. Sebaliknya, Reformasi – tergantung kepada siapa Anda bertanya – merupakan sebuah pemberontakan yang berhubungan dengan bid’ah, atau sebuah tindakan melampaui batas, atau sebuah momen emas ketika orang-orang yang kudus menyalakan cahaya kembali setelah kegelapan selama 1.500 tahun. Seseorang bisa hampir menggambarkan para malaikat sedang bernyanyi saat Martin Luther memakukan 95 tesisnya ke pintu gerbang Wittenberg.

Sejarah yang sesungguhnya, tentu saja, jauh lebih bernuansa, jauh lebih menarik, dan jauh lebih menghormati Allah yang berdaulat atasnya.

Peristiwa-peristiwa sejarah tidak terjadi dalam keadaan kosong.

konten

Dalam benak banyak orang percaya, terutama para penginjil, tidak ada kepentingan besar sejarah yang terjadi di antara akhir Perjanjian Baru dan awal Reformasi. Kemudian, pada saat yang tepat, Allah membuka mata Martin Luther dan apa yang terjadi kemudian merupakan sejarah yang suci, terpisah dari peristiwa-peristiwa dunia nyata lainnya yang terjadi pada abad-abad di antaranya.

Akan tetapi, itu bukanlah bagaimana biasanya sejarah dibukakan. Untuk memastikan, Allah bisa (dan memang) campur tangan dalam urusan umat manusia dalam cara yang ajaib, sebagaimana Dia menganggapnya tepat. Akan tetapi, seringkali, Dia mengatur sejarah melalui alat yang biasa, dengan mengarahkan jaring rumit kehidupan dan peristiwa yang tak terbatas, sebab dan akibat, untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Itu selalu menjadi polanya, baik di zaman di Alkitab maupun di luarnya.

Reformasi tidak terjadi dalam semalam, hanya sebagai akibat dari Luther yang membuka Alkitabnya. Sesungguhnya, Luther dan para reformator lainnya menekankan bahwa mereka bukan memulai apa pun yang baru, tetapi hanya melanjutkan apa yang diproklamasikan oleh Gereja Mula-mula tentang Injil. Demikian juga, Renaisans tidak terjadi hanya karena sedikit seniman dan pemikir di Italia Utara yang merasa muak dengan ajaran gereja dan memulai munculnya jalan otonomi manusia.

Faktor-faktor yang memunculkan Renaisans dan juga Reformasi

Renaisans mulai lebih dari seabad sebelum Reformasi, tetapi keduanya merupakan gerakan sejajar yang esensial dalam sejarah dunia, yang menghasilkan jaringan yang sama dari faktor sosial, kultural, dan politik.

Munculnya universitas-universitas di Eropa pada akhir abad pertengahan membawa serta sebuah semangat menyelidiki dan kehausan akan pengetahuan. Teologi masih menjadi ratu dari ilmu-ilmu pengetahuan, tetapi para teolog berusaha untuk melihat melampaui ajaran-ajaran tradisional dunia dan menyelidiki fakta-fakta dari pengalaman manusia dan dunia natural.

Wabah Hitam (wabah yang melanda di Eropa, sepertinya penyakit pes - Red.) pada abad ke-14 membinasakan sebagian besar Eropa, yang membunuh antara 30 sampai 60 persen dari jumlah penduduknya. Penghancuran besar-besaran menggoyahkan iman di gereja, dan kurangnya tenaga kerja menciptakan mobilitas sosial, pekerjaan-pekerjaan baru, dan mulai munculnya kelas menengah.

Munculnya kelas menengah, pada gilirannya, menciptakan kemakmuran secara ekonomi dan penemuan baru rasa kebebasan pribadi pada banyak orang. Mereka mulai menolak kontrol pihak yang berwenang dan beban keuangan yang berat mulai ditanggungkan pada mereka oleh gereja di abad pertengahan.

Gerakan-gerakan pembaharuan sebelumnya telah ditumbuhkan dalam berbagai negara selama berabad-abad. Di antara yang lainnya, warga Inggris John Wycliffe dan Czech Jan Hus mengkritik keterlibatan Paus dalam urusan politik dan ekonomi, dan telah mengajak Gereja untuk kembali ke Kitab Suci sebagai satu-satunya aturan kebenarannya.

Perselisihan politik dengan kepausan mencapai puncaknya selama sebuah periode ketika dua dan kemudian tiga paus tandingan mengaku memiliki otoritas atas gereja. Keadaannya memompa penolakan yang sudah ada di antara para pemimpin Eropa terhadap lembaga yang kaya, korup, dan jelas-jelas politik yang kepadanya mereka masih menerima pajak dan setia.

Ketundukan Konstantinopel kepada Ottoman Turks pada tahun 1453 mengirim para sarjana Kristen yang ada di Timur pergi ke Barat, dengan membawa serta naskah-naskah Yunani, termasuk Perjanjian Baru. Hal ini merupakan kunci untuk kebangunan studi literatur Yunani kuno dan alkitabiah dengan kembali ke sumber utama dalam bahasa asli mereka.

Penemuan huruf cetak yang dapat dipindah-pindah pada waktu yang hampir sama oleh Johannes Gutenberg mengubah penyebaran pengetahuan dan pembelajaran publik. Untuk pertama kalinya, Alkitab, dan juga buku-buku lain dan dokumen-dokumen bisa diproduksi secara banyak dan bisa dimiliki orang-orang biasa dengan harga yang terjangkau.

Renaisans memungkinkan terjadinya Reformasi

Pengejaran pengetahuan yang diperbaharui, melonggarkan hirarki tradisional, menumbuhkan rasa tidak puas terhadap kejahatan di gereja, dan bangkitnya ketertarikan untuk belajar dalam sumber literatur Yunani kuno dan Kristen semuanya mulai terjadi selama Renaisans dan memberikan dasar untuk Reformasi.

Edisi cetak pertama Perjanjian Baru Bahasa Yunani diterbitkan oleh sarjana Renaisans Belanda, Desiderius Erasmus, pada 1516, tahun sebelum 95 tesis Luther muncul. Karya Erasmus merupakan dasar untuk terjemahan Alkitab Luther dalam Bahasa Jerman yang mulai pada tahun 1522, demikian juga versi Bahasa Inggris karya William Tyndale pada tahun 1526. Ketiga Alkitab ini tersedia luas bagi publik, terima kasih kepada teknologi cetak Gutenberg.

Orang-orang yang sebenarnya, bukan stereotip

Tokoh-tokoh Renaisans yang terkemuka seperti Erasmus dan Galileo biasanya digambarkan sebagai pahlawan humanis yang menolak agama demi akal dan pemikiran bebas. Pada kenyataannya, humanisme dari orang-orang ini jelas tidak sama dengan ateisme sekuler modern. Meskipun mereka mengkritik gereja, sebagian besar mayoritas tetaplah orang-orang yang beriman yang mengejar seni, ilmu pengetahuan, dan filosofi melalui sebuah kerangka kepercayaan kepada Allah.

Sebaliknya, tanggapan publik mengenai para pemimpin reformator adalah kurangnya toleransi: pendeta-pendeta yang keras memperdebatkan lima poin teologi yang tajam, menyebarkan jenis agama mereka yang keras ke seluruh Eropa Utara. Kebanyakan disebabkan karena kegagalan mereka secara pribadi, beberapa benar-benar membuat masalah: anti-Semitisme Luther yang jahat; persetujuan Calvin yang diduga keras membunuh Servetus yang bid’ah di tiang sula di Geneva, sebuah kisah yang diubah sana-sini dan adalah kebenaran sebagian.

Bahkan, dalam lingkungan orang Kristen modern, orang-orang ini kadang-kadang dianggap sebagai individu-individu yang bermasalah, bergumul dengan roh-roh jahat secara pribadi, bertindak berlebihan terhadap isu-isu pada zaman mereka dan mengakibatkan keretakan di dalam gereja yang belum disembuhkan. Sebaliknya, beberapa tradisi gereja terus memuja mereka sebagai para juara yang nyaris tidak bisa keliru yang memiliki kemurnian dalam ajaran, hampir setara dengan para rasul dan nabi di Kitab Suci.

Kebenarannya, sebagaimana seseorang mungkin menduganya, terdapat di tengah-tengahnya. Tokoh-tokoh terkemuka Reformasi adalah orang-orang asli pada zaman mereka, bukan stereotip buatan. Mereka bukanlah teladan yang sempurna atau pun monster, tetapi hamba-hamba Allah yang tidak sempurna, yang berusaha untuk memimpin gereja kembali kepada iman yang sesuai dengan Alkitab. Meskipun mereka gagal, Allah memakai mereka untuk menyalakan kembali sebuah kasih untuk Kristus dan komitmen kepada Injil-Nya pada skala kultural yang tidak terlihat sejak akhir Perjanjian Baru.

Untaian paralel dalam jalinan providensia ilahi

Dilakukan bersama-sama, Renaisans dan Reformasi merupakan untaian paralel terbaik yang terlihat dalam jalinan providensia ilahi.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Allah itu berdaulat atas sejarah dan atas gereja-Nya. Dia menebus umat-Nya dan juga seluruh ciptaan-Nya. Sampai akhir, Dia memakai orang-orang yang tidak sempurna, dan peristiwa-peristiwa sejarah yang rumit dan ambigu, sehingga seluruh kemuliaan menjadi milik-Nya.

Renaisans, jauh dari menjadi usaha tanpa Allah, merupakan sebuah penemuan ulang terhadap mandat budaya yang telah Allah berikan kepada umat manusia sejak awal. Itu adalah pencarian seni dan ilmu pengetahuan dan pembelajaran, sebuah komitmen untuk bersuka dan menyelidiki urutan ciptaan dan natur dari umat manusia, yang dijadikan dengan dahsyat dan ajaib.

Reformasi, pada bagiannya, juga bukan sebuah kesalahan atau pun momen yang tidak bernoda dalam sejarah suci. Itu juga merupakan sebuah penemuan ulang, dibangun pada pencapaian-pencapaian dari Renaisans untuk menyinarkan terang Kitab Suci pada budaya dan gereja pada zamannya. Saat melakukan itu, itu melepaskan kuasa Injil yang membebaskan untuk mengubahkan hidup dan masyarakat melalui iman dalam karya Kristus yang sempurna.

Apa yang dimulai Renaisans, ditekankan oleh Reformasi dan dikembangkan dengan kebenaran berdasarkan Kitab Suci. Dilakukan bersama-sama, Renaisans dan Reformasi merupakan untaian paralel terbaik yang terlihat dalam jalinan providensia ilahi. Allah memakai mereka untuk mewujudkan segi-segi yang berbeda-beda dari Injil-Nya dengan kejelasan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tingkat individu dan masyarakat. Pengaruh mereka telah bergaung melalui gereja dan budaya Barat selama lebih dari 500 tahun dan sepertinya akan terus berlanjut ke tahun-tahun berikutnya. (t/Jing-Jing)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Focus on the Family
URL : https://www.focusonthefamily.ca/content/renaissance-and-reformation-and-the-providence-of-god
Judul asli artikel : Renaissance and Reformation and the providence of God
Penulis artikel : Subby Szterszky