Menyanjung Bavinck: Pria di Balik 'Dogmatika Reformed'

Penulis_artikel: 
Carlton Wynne
Tanggal_artikel: 
23 Juli 2021
Isi_artikel: 

Ulasan: 'Bavinck: Sebuah Biografi Kritis' oleh James Eglinton

Saat itu tahun 2006 ketika saya menonton TV proyeksi belakang dengan kualitas tampilan HD pertama saya. Gambar itu menunjukkan sebuah turnamen golf dengan kejernihan yang menakjubkan dan warna yang cemerlang, sampai ke lekuk-lekuk pada bola golf. Meski mengesankan, TV itu besar, berat, tidak praktis, yang sekarang jauh dilampaui oleh model-model selanjutnya.

Membaca biografi James Eglinton tentang seorang teolog Belanda dan neo-Calvinis genius, Herman Bavinck (1854 -- 1921) mengingatkan saya pada pengalaman itu, dengan setidaknya satu perbedaan utama. Bavinck: Sebuah Biografi Kritis dipenuhi dengan warna, kecerahan, dan kontras. Namun, tidak seperti TV HD lama, jilid ini ramping dan kukuh, dan pasti akan menarik perhatian generasi-generasi mendatang.

James Eglinton adalah Dosen Senior Meldrum dalam Teologi Reformed di Universitas Edinburgh. Namun, pada saat ini dia mungkin juga disebut sebagai Dosen Reformed Favorit dalam segala hal tentang Bavinck.

Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan aliran literatur yang muncul tentang teolog Reformed terbesar abad terakhir, sebagian besar mengikuti kasus ilmiah Eglinton untuk Bavinck sebagai dogmatis Reformed yang konsisten, sebuah bacaan baru yang secara efektif menggantikan perspektif lama yang secara keliru mendeteksi tanda-tanda ortodoks dan modern yang bertentangan dalam tulisan-tulisan Bavinck. Dengan menelaah kompleksitas latar belakang Bavinck, biografi terbaru ini menunjukkan bahwa selain menyembunyikan masalah teologis, tesis "dua Bavinck" juga memiliki cacat historis dan sosiologis.

Bavinck Orangnya

Herman Bavinck

Namun, itu belum semua, Saudara-saudara. Eglinton menggambarkan biografinya sebagai "kritis" dalam arti bahwa biografinya diambil dari beragam sumber asli (buku harian, surat, surat kabar, dll.) untuk menyajikan kompleksitas kehidupan Bavinck secara akurat dan jujur dalam konteks zamannya. Orang mungkin menambahkan bahwa kata "kritis" juga berlaku untuk cara Eglinton yang dengan cekatan memperbaiki sejumlah kesalahan yang muncul di beberapa model biografi Bavinck yang lebih tua. Saya menghargai pembelajaran, misalnya, bahwa (1) seuntai tradisi "Seceder" Bavinck tidak bertentangan dengan integrasi budaya; (2) dia tidak menghadapi ketidaksetujuan orang tua ketika pergi untuk belajar di Leiden; dan (3) dia dan istrinya, Johanna, adalah pasangan teologis yang cocok.

Jadi, pria macam apa yang Eglinton fokuskan saat dia menyajikan apa yang mendorongnya untuk dikatakan melalui metodenya? Penulis menjawab, "Saya menyajikan subjek saya sebagai seorang Eropa modern, seorang Calvinis ortodoks, dan seorang ilmuwan" (xxii).

Kumpulan dalam lima bagian penting yang diuraikan ("Asal", "Mahasiswa", "Pendeta", "Profesor di Kampen", dan "Profesor di Amsterdam"), segmen-segmen kronologis kehidupan dan pekerjaan Bavinck ini mengungkapkan dia sebagai seorang teolog Reformed yang dalam berbagai cara menghadapi, mengembangkan di dalam, dan bergumul dengan lanskap yang berubah dari dunia modern akhir. Tema dasar ini terlalu rumit disajikan dalam buku untuk menangkap dalam ulasan singkat. Akan tetapi, secara umum adalah masuk akal untuk mengatakan bahwa narasi tentang pria ortodoks ini pada zamannya membuka lensa pada skala yang lebih kecil dan lebih besar, masing-masing membawa pelajaran untuk hari ini.

Dibentuk Melalui Penderitaan

Dalam skala yang lebih kecil, Eglinton memperbesar perjuangan Bavinck untuk menghubungkan tradisi Belandanya yang relatif terisolasi dengan bakat intelektualnya yang kuat dan ambisi teologisnya yang luas. Kadang-kadang, yang pertama tidak memuaskannya, dibuktikan dengan keputusannya untuk meninggalkan Sekolah Teologi di Kampen setelah satu tahun belajar di bawah bimbingan para sarjana modernis di Universitas Leiden.

Pada waktu lain, tradisinya tidak berpihak padanya. Misalnya, Bavinck mendekam selama satu dekade berusaha menikahi kekasih remajanya, tetapi malah ditolak oleh ayah gadis itu pada setiap kesempatan. Bertahun-tahun kemudian, setelah kembali ke Kampen untuk mengajar, Bavinck menghadapi konflik tak berujung di dalam fakultas atas penolakan lembaga itu terhadap akademi ilmiah, khususnya prospek kesepakatan kerja sama dengan Free University Abraham Kuyper di Amsterdam.

Dari kisah cintanya yang sulit dengan seorang gadis kampung halaman, hingga perkenalannya dengan minuman keras di Leiden, hingga frustrasinya di dalam fakultas seminari, Bavinck tiba-tiba menjadi terhubung dengan pembaca. Bahkan, para pendeta yang bekerja dalam kesendirian atau yang hidupnya tetap keras kepala tidak sejalan dengan lingkungan mereka akan beresonansi dengan "pengalaman yang sangat kesepian" Bavinck (121) selama penggembalaan singkatnya di Franeker.

Setiap pergumulan ini mengajarkan kita bahwa banyak tulisan Bavinck, termasuk magnum opus-nya, empat jilid "Reformed Dogmatics", tidak jatuh dari langit, tetapi ditempa oleh seorang pria sejati yang menanggung salib di hadapan Juru Selamatnya.

Teologi yang berpusat pada Allah

Akan tetapi, Eglinton juga mencoba untuk mengambil gambar layar lebar tentang pengharapan Bavinck yang gigih untuk melihat teologi Reformed bertemu dengan dan mengubah gerakan dan gagasan pada zamannya. Bertentangan dengan Friedrich Schleiermacher -- juga seluruh tradisi modernis, dalam hal ini -- Bavinck percaya bahwa hanya ketika teologi benar-benar berasal dari Allah dan melekat pada Allah, dan bukan manusia, itu akan memenuhi visi neo-Calvinis untuk membawa ketuhanan Kristus untuk menanggung setiap perjuangan manusia.

Komitmen terhadap apa yang Eglinton sebut sebagai "sifat teologi yang independen" (138) ini memberikan koreksi yang bermanfaat bagi mereka pada zaman kita yang tergoda untuk mengumpulkan bukti yang mendukung argumen mereka untuk Kekristenan berdasarkan intuisi modern yang sekilas secara formal beresonansi dengan pandangan dunia Kristen. Secara sederhana, poin referensi duniawi mungkin berguna untuk memulai percakapan, tetapi bagi Bavinck, seperti yang Eglinton tunjukkan mengenai dia, pemahaman Kristen yang sejati tentang dunia harus diperoleh dengan baik dan jelas dari wahyu penebusan Allah dalam Kitab Suci.

banyak tulisan Bavinck, termasuk magnum opus-nya, empat jilid "Reformed Dogmatics", tidak jatuh dari langit, tetapi ditempa oleh seorang pria sejati yang menanggung salib di hadapan Juru Selamatnya.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Seperti yang ditulis Bavinck kepada seorang teman yang mendalami kritik modern terhadap Kitab Suci, "Inilah perbedaan antara Anda dan saya ... Anda ingin, melalui dan setelah penelitian, mencapai sudut pandang ini (yaitu, penilaian atas Kitab Suci mencapai sebuah pengetahuan berdasarkan pengamatan bukan pemahaman); Saya bergerak maju dari itu (yaitu, pandangan Kitab Suci menegaskan apriori) dan terus meneliti" (139).

Namun, kesetiaan Bavinck terhadap prinsip-prinsip Reformed seperti itu tampaknya sedikit melemah pada kemudian hari. Dengan munculnya ateisme militan Friedrich Nietzsche, Eglinton mencatat, Bavinck di depan umum mendukung "gagasan umum Kekristenan" (242) daripada Reformed Calvinisme yang spesifik.

Apa yang menyebabkan perubahan strategis ini? Intimidasi oleh besarnya tugas? Kekecewaan atas prospek Calvinisme yang saat itu tampak suram? Sementara Eglinton memberikan petunjuk penjelasan, mungkin grup inti sarjana Bavinck yang berkembang akan menyelidiki pertanyaan ini secara lebih mendalam.

Kata terakhir tentang karya seni untuk sampul bukunya: itu adalah potret Bavinck yang dilukis oleh teman Eglinton dan rekan teolog Oliver Crisp. Wajahnya termenung, mata tertutup, menunjukkan perhatian yang mendalam tentang kebesaran Allah Tritunggal dan keagungan-Nya yang dimasyhurkan di seluruh bumi.

Eglinton telah mengelaborasi gambar itu dengan menghadirkan seorang pria yang di sepanjang hidupnya yang panjang dan menarik, memiliki tujuan untuk mengagungkan kemuliaan Tuhan di dalam dan melalui segala sesuatu. Semoga para pembacanya juga memiliki tujuan ini untuk hidup mereka sendiri, dan suatu hari melihatnya terwujud dalam warna-warna cerah dan kejelasan pada akhir zaman. (t/Jing-Jing)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/reviews/bavinck-critical-biography/
Judul asli situs : Becoming Bavinck: The Man Behind 'Reformed Dogmatics'
Penulis artikel : Carlton Wynne