Berkat dan Kutuk

Penulis_artikel: 
T. Desmond Alexander
Tanggal_artikel: 
9 November 2021
Isi_artikel: 

Meskipun jarang diperhatikan, konsep berkat menjadi bagian terpenting dari Injil. Rasul Paulus menyoroti hal ini dalam suratnya kepada orang-orang percaya Kristen di Galatia. Dalam membela dengan penuh semangat masuknya orang-orang bukan Yahudi menjadi umat Allah, dia menulis, "Kitab Suci, yang telah mengetahui sebelumnya bahwa Allah akan membenarkan orang-orang bukan Yahudi karena iman, telah lebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham, dengan berkata, 'Semua bangsa akan diberkati melalui kamu'" (Gal. 3:8, AYT). Seperti yang terus ditekankan oleh Paulus, berkat yang diberikan kepada Abraham sampai kepada orang-orang bukan Yahudi melalui Yesus Kristus (ay.14).

Pandangan Paulus mengingatkan bagaimana konsep berkat dan kutuk sangat penting dalam Kitab Kejadian. Saat penciptaan, Allah memberkati umat manusia ketika Dia memerintahkan mereka untuk beranak cucu dan berlipat ganda dan memenuhi bumi dan menguasainya (Kej. 1:28, AYT). Sayangnya, ketidaktaatan Adam dan Hawa kepada Allah setelah itu mengakibatkan mereka mendapat penghukuman dari-Nya. Berkat memberi jalan kepada kutuk, saat Allah mengucapkan hukuman yang merusak kehidupan Adam dan Hawa dan keturunan mereka (3:16-19). Kutukan Allah atas umat manusia mendatangkan penderitaan bagi pria dan wanita, yang memengaruhi seluruh ciptaan.

Petrus menekankan bahwa berkat ini hanya datang kepada mereka yang berbalik dari kejahatannya.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Dengan latar belakang ini, Allah memanggil Abraham untuk memulai proses di mana berkat dapat dipulihkan kepada orang-orang di mana-mana. Bagian kedua dari perintah Allah kepada Abraham menggarisbawahi pentingnya berkat:

"TUHAN berfirman kepada Abram, "Pergilah dari negerimu, dan dari keluargamu, dan dari rumah ayahmu, ke tanah yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan menjadikanmu suatu bangsa yang besar, dan Aku akan memberkatimu dan membuat namamu masyhur, dan kamu akan menjadi berkat. Aku akan memberkati mereka yang memberkatimu, tetapi orang yang mengutukmu akan Aku kutuk. Melaluimu semua kaum di bumi akan diberkati." (Kej. 12:1-3, AYT)

Pengulangan kata kerja memberkati dalam ayat-ayat ini menyoroti peran penting yang Allah tetapkan untuk dilakukan oleh Abraham. Dengan Abraham, ada kemungkinan bahwa beberapa orang dapat sekali lagi mengalami berkat Allah.

Meskipun harapan akan berkat dimulai dari Abraham, harapan itu terus berlanjut melalui garis keturunannya yang terpilih, yang juga diberkati oleh Allah. Janji Allah kepada Abraham dalam Kejadian 22 mengaitkan berkat bangsa-bangsa dengan salah satu keturunan Abraham: "Keturunanmu akan menduduki setiap gerbang musuh-musuh mereka, dan melalui keturunanmu, semua bangsa di bumi akan diberkati karena kamu menaati pekataan-Ku." (Kej. 22:17b-18, AYT).

Keturunan yang disebutkan di sini akan berasal dari garis keturunan yang mencakup Ishak, Yakub, dan, awalnya, Yusuf, yang semuanya membawa berkat bagi orang lain. Kita melihat ini terutama dengan Yusuf, yang menyelamatkan orang-orang dari bencana kelaparan di berbagai negara. Secara signifikan, garis keturunan Abraham ini terkait dengan keluarga kerajaan (Kej. 17:6, 16; 35:11; lihat Kej. 27:29; 37:8; 49:8-10). Jadi, dimulai dengan Abraham, ada harapan bahwa berkat Allah atas bangsa-bangsa di bumi akan dicurahkan melalui seorang raja yang akan datang. Pada waktunya, harapan ini terkait dengan kerajaan Daud dan akhirnya dengan Yesus Kristus (lihat Matius 1:1-17).

Gagasan bahwa Yesus Kristus membawa berkat sebagai pemenuhan janji Allah kepada Abraham juga ditegaskan dalam Kisah Para Rasul 3 ketika Petrus berbicara kepada sekelompok orang Yahudi:

"Kamu adalah keturunan dari para nabi dan dari perjanjian yang telah Allah buat dengan nenek moyangmu, dengan berkata kepada Abraham, "Melalui benihmu, semua keturunan di muka bumi akan diberkati." Allah, setelah membangkitkan hamba-Nya, mengirimkan-Nya kepadamu lebih dahulu untuk memberkatimu dengan membuat setiap orang dari antaramu berbalik dari kejahatan." (Kis. 3:25-26, AYT)

Sekali lagi, Yesus Kristus dihadirkan sebagai Pribadi yang menjadi perantara berkat Allah kepada orang lain. Dalam menyatakan hal ini, Petrus menekankan bahwa berkat ini hanya datang kepada mereka yang berbalik dari kejahatannya.

Kembali ke pernyataan Paulus dalam Galatia 3, patut dicatat bahwa dia juga berbicara tentang Kristus "menjadi kutuk" (ay.13) bagi mereka yang gagal "menuruti segala sesuatu yang tertulis dalam Kitab Hukum Taurat" (ay.10). Di sini, Paulus menyinggung tentang perjanjian yang dimulai di Gunung Sinai antara Allah dan orang Israel. Ketika perjanjian ini kemudian diperbarui di dataran Moab, Musa memberikan kepada orang Lewi Kitab Taurat (Ulangan 31:24-26). Sebagai bagian dari proses ini, Musa membuat daftar berkat (28:1-14) dan kutukan (28:15-68; lihat 27:15-26) yang masing-masing akan terjadi atas orang Israel karena menepati atau melanggar perjanjian. Yang tidak menyenangkan, daftar kutukan jauh lebih panjang daripada daftar berkat, dan pernyataan Musa selanjutnya menunjukkan bahwa ketidaktaatan bangsa Israel pada masa depan akan mengakibatkan penghakiman Allah yang berat menimpa mereka.

berkat dan kutuk

Dengan cukup tegas, Paulus mengarahkan perhatian dalam Galatia 3 pada kutukan yang terkait dengan perjanjian Sinai, karena kutukan ini telah menimpa dirinya dan sesama orang Yahudi. Paulus percaya bahwa orang Yahudi pada umumnya berada di bawah kutukan Allah karena mereka telah gagal untuk mematuhi segala sesuatu yang diwajibkan dalam Kitab Taurat. Akibatnya, orang Yahudi tidak memiliki posisi yang lebih baik untuk menikmati berkat Allah daripada orang bukan Yahudi. Paulus jelas menganggap dirinya sebagai salah satu dari mereka yang berada di bawah penghukuman. Sehubungan dengan ini, Paulus menekankan bagaimana Kristus telah menjadi "kutuk bagi kita", yaitu bagi orang-orang yang dihukum oleh Taurat. Ironisnya, para penentang Paulus menginginkan orang bukan Yahudi menjadi orang Yahudi untuk menikmati berkat Allah. Paulus dengan tegas berpendapat bahwa ini tidak perlu, karena berkat datang melalui Kristus.

Terlepas dari pentingnya berkat dan kutuk untuk memahami makna/pentingnya kematian Kristus di kayu salib, kita tidak boleh lupa bahwa dalam pengajaran-Nya, Yesus juga menyoroti perihal menikmati berkat Allah. Dalam hal ini, patut dicatat bahwa Khotbah di Bukit dimulai dengan serangkaian pernyataan yang berfokus pada konsep berkat. Dalam Ucapan Bahagia, Yesus menggambarkan karakteristik orang-orang yang akan diberkati. Dia juga menunjukkan bahwa berkat-berkat ini tidak serta merta dialami. Orientasi masa depan dari Matius 5 menunjukkan bahwa keuntungan menjadi bagian dari kerajaan surga masih menunggu penyempurnaan kerajaan dan penciptaan langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:1-4).

Menariknya, Khotbah di Bukit versi Lukas tidak hanya mencantumkan berkat-berkat (Lukas 6:20-23), tetapi juga berisi serangkaian "celaka" (ay. 24-26) yang akan menimpa mereka yang menolak Yesus sebagai Tuhan mereka. Kontras antara mengalami berkat atau kutuk Allah ini merupakan pengingat penting bahwa kita tidak secara otomatis menikmati perkenanan Allah terlepas dari bagaimana kita hidup. Hanya mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat mereka dan tunduk pada ketuhanan-Nya, yang akan mengalami berkat Allah yang kekal. Ketaatan mendatangkan berkat, bukan karena ketaatan mendatangkan keselamatan, tetapi karena ketaatan menunjukkan realitas iman kita kepada Dia yang memberkati umat-Nya. (t/Jing-Jing)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ligonier
Alamat situs : https://www.ligonier.org/learn/articles/blessing-and-cursing/
Judul asli artikel : Blessing and Cursing
Penulis artikel : T. Desmond Alexander